Psikologi umanistik di anggap sebagai revolusi ketiga dalm psikologi. Revolusi pertama dan kedua adalah psikoanalisis dan behaviorisme. P...
Psikologi umanistik di anggap sebagai revolusi ketiga dalm psikologi. Revolusi pertama dan kedua adalah psikoanalisis dan behaviorisme. Pada behaviorisme manusia hanyalah mesin yang di bentuk lingkungan, pada psikoanalisis manusia selalu di pengaruhi oleh naluri primitifnya. Dalam pandangan behaviorisme menusia menjadi robot tanpa jiwa, tanpa nilai. Dalam psikoanalisis, seperti kata frued sendiri, we see man as savege beast (1930: 86). Keduanya dianggap tidak menghormati manusia sebagai manusia. Keduanya idak dapat menjelskan aspek eksistensi manusia yang posistif dan menentukan, seperti cinta, kreativitas, nilai, makna, dan pertumbuhan pribadi. Inilah yang di isi oleh psikolgi humanistik, “Humanistic psycholog is not just te stdy of `human being`; it a commitment to human becoming,” tulis Floyd W.Matson (1973: 19) yang agak sukar di terjemahkan ke dalam bahasa indonesia
Psikologi humanistik mengambil banyak dari psikoanalisis Neo Freudin (sebenarnya anti freudin) seperti adler, Jung, Rank, Slekel, Ferenezi; tetapi lebih banyak lagi mengambil dari fenomenologi dan eksistesnsialisme. Fenomenologi memandang manusia hidup dalam “dunia kehidupan” yang di persepsi dan di interpretasikan secara subjektif. Setiap orang mengalami dunia dengan cara sendiri. Alam pengalaman setiap orang berbeda dari alam pengalaman yang dimiliki orang lain.; (Brouwer, 1983: 14) fenomenologi banyak mempengaruhi tulisan-tulisan Carl Roger yang boleh di sebut sebagai bapak Psikologi Humanistik.
Menurut Alfried Schutz, tokoh sosiologi fenomenologis, pengalaman subjektif ini di komunikasikanoleh faktor sosial dalam proses intersubjektifitas. “untuk memahami makna subjektif anda, Aku harus mengambarkan arus kesadaran anda mengalir berdampingan dengan arus kesadaran ku. Dalam gambaran inilah, aku harus menafsirkan dan membentuk tindakan intensional anda ketika anda memilih kata-kata anda.” (Schutz, 1970: 167) . intersubjektivitas di ungkapkan pada eksistensialisme pada tema dialog, pertemuan, hubungan diri dengan orang lain, ataau apa yang di sebut oleh Martin Buber I-thou Relationship. Di sinilah faktor orang lain menjadi penting; bagaimana reaksi mereka membentuk bukan saja konsep diri kita, tetapi juga pemuasan seperti apa yang di sebut oleh Abraham Maslow – growth needs. Eksistensialisme menekankan pentingnya kewajiban individu pada sesama manusia. Yang paling penting bukan apa yang di dapat dari kehidupan, tapi apa yang dapat kita berikan untuk kehidupan. “One`s life can be fulfilling only if it involes socially contructive values and choices (Coleman dan hummen, 1974: 36). Jadi, hudup kita baru bermakna hanya apabila melibatkan nilai-nilai konstruktif secara sosial
Perhatikan bapa makna kehidupan adalah juga hal yang membedakan psikologi humanistik dari mazhab yang lain. Manusia bukan saja peelakon dalam panggung masyrakat, bukan saja pencari identitas, tapi juga pencari makna. Frued pernah mengirim surat pada Princess Benaparte dan menulis bahwa pada saat manusia bertanya apa makna dan nilai kehidupan, pada saat itu ia sakit. Salah, Salah, kata Victor E. Frank, manusia justru menjadi manusia ketika mereke mempertanyakana apakah hidupnya bermakna. selanjutnya Frankl berpendapat
I think it si time to recognize yhe fact that man is more than just a machanism or teh outcome of conditioning processes, to recognize the humanness of man, to recognize that man is a being in steady search of meaning, and that his heart is restless until hi finds meaning in his life (Frankl, 1967: 185). Saya fikir, sudah saatnyalah kita mengakui kenyataan bahwa manusia bukan sekedar mekanisme atau hasil proses pelaziman, untuk mengakui kemanusiaan manusia, untuk mengakui bahwa manusia adalah wujud yang selalu mencari makna, dan bahwa hatinya selalu resah sebeelum menemukan makna dalm hudupnya.
Pendapat Frankl menyimpulkan asumsi-asumsi Psikologi Humanistik: keunikan manusia, pentingya nilai dan makna, serta kemempuan manusia untuk mengambangkan dirinya. Sebagai penjelas, kita akan menyajikan penjabaran asumsi-asumsi ini dalam pandangan pandngan Carl Rogers.
Carl Rogers menggarisbesarkan pandangan humanisme sebagai berikut (kita pinjam dengan sedikit perubahan dari Coleman dan Hummen, 1974: 33):
1. Setiap manusia hidup dalam dunia pengalaman yang bersifat pribadi di mana dia-sang Aku, Ku, atau diriku (the I, me, or my self )- menjadi pusat. Prilku manusia berpusat pada konsep diri, yaitu persepsi manusia tentang identitas dirinya yang bersifat fleksibel dn berubah-ubah, yang muncul dari suatu medan fenomenal (phenomenal field). Medan keseluruhan pengalaman subjektif seorang manusia, yang terdirir atas pengalaman-pengalaman Aku dan Ku dan pengalaman yang “bukan aku”
2. Manusia berprilaku untuk mempertahankan, meningkatkan, dan mengaktualisasikan diri.
3. Individu bereaksi pada situasi sesuai dengan persepsi tentang dirinya dan dunianya i bereaksi pada “realitas” seperti yang di persepsikan olehnya dan dengan cara yang sesui dengan konsep dirinya.
4. Anggapan adanya ancaman terhadap diri akan diikuti oleh pertahanan diri berupa penyempitan dan pengkakuan (regidification) persepsi dan prilaku penyesuaian serta penggunaan mekanisme pertahanan ego seperti rasionalisasi.
5. Kecenderungan batiniah manusia ialah menuju kesehatan dan keutuhan diri. Dalam kondisi yang normal ia berprilaku rasional dan konstrukti, serta memilih jalan menuju pengembangan dan aktualisasi diri.
DRS. JALALUDDIN RAKHMAT, M.Sc.

