Teori interfensi ( Interferance Theory ) LEBIH SERING MENGINGAT, LEBIH JELEK DAYA INGAT KITA Di dalam teori ini berpendapat bahwa in...
Teori interfensi ( Interferance Theory )
LEBIH SERING MENGINGAT, LEBIH JELEK DAYA INGAT KITA

LEBIH SERING MENGINGAT, LEBIH JELEK DAYA INGAT KITA

Di dalam teori ini berpendapat bahwa ingatan manusia atau memori manusia ibarata kanvas atau meja lilin, dimana pengalaman bagaikan lukisan peda meja lilin atau kanvas tersebut. Seperti misalkan pada sebuah kanvas sudah terlukis hukum relativitas. Segera setelah itu anda mencoba mengingat atau menghafal hukum medan gabungan. Ingatan yang kedua tentang medan gabungan akan menyebabkan terhapusnya ingatan yang pertama tentang hukum relativitas atau membuat ingatan akan hukum relativitas menjadi berkurang atau kabur.
Hal ini di sebut interfensi. Misalnya, anda menhafal halaman pertama dalam sebuah novel dan anda berhasil menghafalnya. Dan setelah itu meneruskan menghafal ke halaman berikutnya, dan berhasil juga. Tapi yang di ingat di halaman pertama akan berkurang yang tertumpuk oleh ingatan selanjutnya. Hal ini di sebut inhibisi retroaktif (hambatan ke belakang ). Beberapa eksperimen menunjukan behwa beberapa pelajaran yang di hafal sebelum tidur lebih lama berada dalam ingatan dari pada pelajaran yang di hafal sebelum kegiatan-kegiatan lain (Shiffrin, 1970). Mengapa? karena pada saat kita terlalap tidur tidak terjadi inhibisi retroaktif.
Hal ini di sebut interfensi. Misalnya, anda menhafal halaman pertama dalam sebuah novel dan anda berhasil menghafalnya. Dan setelah itu meneruskan menghafal ke halaman berikutnya, dan berhasil juga. Tapi yang di ingat di halaman pertama akan berkurang yang tertumpuk oleh ingatan selanjutnya. Hal ini di sebut inhibisi retroaktif (hambatan ke belakang ). Beberapa eksperimen menunjukan behwa beberapa pelajaran yang di hafal sebelum tidur lebih lama berada dalam ingatan dari pada pelajaran yang di hafal sebelum kegiatan-kegiatan lain (Shiffrin, 1970). Mengapa? karena pada saat kita terlalap tidur tidak terjadi inhibisi retroaktif.
Dalam ilmu komunikasi kita mungkin mengenal nama Underwood. Ia dalam penelitiannya mengenai ingatan manusia, dimana dalam eksperimennya ia menyuruh subjek untuk mengahafal daftar suku kata yang tidak ada artinya. Dua puluh empat jam kemuadian, mereka di tes. Dalam daftar awal mereke sanggup mengingat 80 persen daftar suku kata tanpa arti itu. Pada daftar kedua puluh, dengan jangka waktu yang sama, mereka hanya mengingat 20 persen saja. LEBIH SERING MENGINGAT, LEBIH JELEK DAYA INGAT KITA. Ini di sebut inhibisi proaktif (hambatan ke depan).
Masih ada satu hambatan lagi walau tidak tepat ada dalam teori interfensi. Yang kita sebut hambatan motivasional. Psikologi klinik membuktikan bahwa pristiwa-pristiwa yang “melukai” hati kita cenderung di lupakan. Frued berpendapat bahwa lupa berasal dari proses represi yang bekaitan dengan cemas atau ketakutan. Amnesia lupa sebagian atau seluruh memori bisa terjadi karena gangguan fisik atau psikologi; karena kerusakan yang terjadi pad otak atau neuroris. Sebaliknya, sesuatu yang penting menurut kita, yang menarik perhatian kita, yang memenuhi kebutuhan kita, kan dengan mudah dingtat, hadir dalam ingatan kita. Ini adalah pengruh faktor personal dalam memori
